BeritaHukumNarkobaSumatera Utara

POLRES SIMALUNGUN UNGKAP TRANSAKSI NARKOBA 1,5 MILIAR

Simalungun, mulajadinews.com

Satuan Reserse Narkoba Polres Simalungun berhasil mengungkap sindikat pengedar narkoba di Siantar dan Simalungun. Transaksi narkoba yang dimainkan mencapai 1,5 Miliar perbulan.

Sindikat ini melibatkan, 11 orang yang juga merupakan residivis dengan kasus yang sama berhasil diamankan. Tertangkapnya pemain narkoba kelas kakap ini hanya membutuhkan waktu selama 2 bulan, namun 1 orang diantaranya yang merupakan bandar paling besar adalah BD, Yang dijadikan DPO.

Akan tetapi kaki tangan BD yang berhasil ditangkap yakni, Boydora Samosir (33), warga Jalan Silimakuta, Kelurahan Tambang Galung, Kecamatan Siantar Barat.

“Kita sudah sita rekening koran milik Boydora, rekening yang digunakan adalah BCA dan Mandiri. Dengan transaksi yang kita lihat dari rekeningnya, tiap bulan mencapai 1,5 Miliar.”ungkap Kapolres Simalungum AKBP Marudut Liberty Panjaitan saat konferensi pers di Asrama Polisi, Jalan Asahan, Kecamatan Siantar Timur, Minggu (23/9/2018) siang.

Selain itu, Kamaluddin Munthe (59), warga Jalan Handayani, Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Siantar Sitalasari, yang membeli sabu dari Boydora.

Sarel alias Brekele (41), warga Jalan Singosari Gang Sadum, Kelurahan Bantan, Kecamatan Siantar Barat, yang membeli sabu dari Kamal.

Indra Tazas (30), Jalan Sibatu-batu, Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Siantar Sitalasari, dan Syafrizal Sinaga (23), Jalan Sibatu-batu, Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Siantar Sitalasari, yang membeli sabu dari Boydora.

Okto Piringadi Simarmata (38), warga Jalan Rakutta Sembiring, Kelurahan Naga Pita, Kecamatan Siantar Martoba, yang membeli sabu dari Sarel.

Doni Kusuma (28), warga Jalan Rakutta Sembiring, Kelurahan Naga Pita, Kecamatan Siantar Martoba, yang membeli sabu dari Okto.

Abdul Rifai (26), warga Jalan H Ulakma Sinaga, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, yang membeli sabu dari Doni

Ermansyah Lubis (58) dan Abdul Khoir Nasution (33). Keduanya merupakan warga Tebing Tinggi dan berperan sebagai kurir.

Kemudian, Suarno alias Arnol (23), warga Jalan Raya, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat, dan Muhammad Fauzi (44), warga Jalan Medan, Kelurahan Sinaksak, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun, yang membeli sabu dari Tazas.

“Boydora ini sekali belanja (sabu) itu 1 ons dengan harga Rp100 juta. 1 ons itu bisa laku dalam seminggu. Boydora belanja dari Banyumas, Lampung, Jawa Timur,” lanjut Liberty.

Dengan cara membuka Warung Internet (Warnet), Boydora mampu mengelabui bisnis narkoba yang dimainkannya.

“di warnet itu dia (boydora) juga melayani penjualan sabu, dan ada kamar khusus untuk melakukan transaksi. Juga dapat terlihat CCTV untuk melarikan diri”jelasnya

Liberty menjelaskan, para tersangka memiliki peran masing-masing. Juga ada tukang pukul untuk melawan kepolisian jika ingin dilakukan penangkapan dan juga mata-mata yang dibayar jika mendapatkan informasi. Maka dari itu, pihak kepolisian membutuhkan waktu yang lama untuk mengungkap jaringan tersebut.

“Kita menyamar sebagai pembeli. Ermansyah Lubis kita tangkap di Serbelawan. Kemudian, kita kembangkan dan kita tangkap dari beberapa lokasi di Siantar dan Simalungun,” paparnya.

Setelah menangkap Boydora di rumahnya, sambung Liberty, pihaknya kemudian melakukan pengembangan ke rumah Tazaz.

“Boydora menyimpan barangnya di rumah Tazaz. Dan yang menjaga Muhammad Fauzi. Fauzi ini sangat militan, juga siap menyerang jika ingin dilakukan penangkapan. Tak hanya itu, Fauzi juga memiliki trek record pembunuhan. Pada saat itu, keluarga Tazaz sempat melakukan perlawanan. Akan tetapi kita berhasil menangkap, karena adanya dukungan dari masyarakat setempat”terangnya.

Sementara, Kamal Munthe sendiri ditangkap ketika hendak memakamkan saudaranya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kristen, Kecamatan Siantar Selatan.

“Kamal sudah kita lakukan pencarian selama sebulan. karena sebelum kita tangkap, Kamal kerap sekali berpindah-pindah tempat. Tetapi ketika kita mendapatkan informasi bahwa Kamal sedang berada di lokasi pemakaman, kita langsung turun dan menangkap pelaku tanpa melakukan perlawanan,” ungkap Liberty.

Liberty sendiri mengatakan bahwa pihaknya mengalami kendala untuk mengetahui keberadaan bandar ynag berinisial BD. karena Boydora dan yang lain tidak pernah bertemu dengannya (BD).

“Mereka tidak pernah bertemu dengan BD. karena hanya melakukan komunikasi melalui telepon. Mereka hanya mengambil barang tersebut dari lokasi yang sudah ditentukan oleh BD. Erwansyah Lubis digaji senilai Rp1 juta setelah mengantarkan barang seberat 1 ons. Dan orang-orang yang bermain dalam sindikat peredaran narkoba ini merupakan residivis.” Jelasnya

Kendala lainnya, kata Liberty, nomor handphone BD sudah tidak dapat dihubungi lagi dan tidak ter-register. “Sesuai penyelidikan, nomor telepon itu pun baru 2 hari dipakai BD. Dan informasinya BD ini orang Aceh,” katanya.

Ke depan, Liberty menegaskan, pihaknya masih akan mengungkap peredaran narkoba, khususnya yang dilakukan Kamal Munthe. “Banyak transaksi narkoba yang dilakukan Kamal di Siantar. Itu akan kita ungkap,” tegasnya.

11 orang dalam sindikat ini pun sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka diganjar Pasal 112 dan 114 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.

Adapun barang bukti yang disita diantaranya 77,91 gram sabu, sejumlah handphone, dan rekening koran. (RED/Dho)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.