Aku Bangga Bagian Keturunan Raja Sonang

Budaya.mulajadinews.com

Kami keturunan Raja Sonang memliki 5 Marga yaitu Gultom, Samosir, Harianja, Pakpahan dan Sitinjak. Sebagai generasi muda dari Raja Sonang saya sangat senang dengan rencana Pesta Bolon Raja Sonang pada bulan Agustus mendatang. Rasa senang dan bangga itu saya implementasikan dalam berbagai tulisan mengenai sosialisasi rencana pesta. Namun ada sedikit ganjalan dihati ini mengenai kekerabatan adat istiadat nantinya di pesta tersebut. Hal ini karena kami para turunan Raja Sonang telah saling mengawini sejak dahulu. Dan oleh perkawinan itu, sesuai adat suku kami (SUKU BATAK), maka Marga dari wanita yang kami nikahi adalah hula hula (raja). Dengan demikian, secara otomatis kami tidak boleh memanggil adik atau abang kepada saudara laki-laki dari istri kami. Sebab dalam adat kami, saudara laki-laki dari istri adalah lae atau ipar dalam bahasa Indonesia. Demikian pula halnya panggilan terhadap saudara laki-laki dari ibu yang melahirkan kami, wajib dipanggil “TULANG”, bukan abang atau adik. Sementara, secara adat, jika kami (poparan Raja Sonang) melaksanakan pesta sesuai adat Batak, maka secara otimatis harus saling memanggil abang atau adik. Dan kepada perempuan harus memanggil ito.

Sementara, Saya Marga Samosir. Ibu yang melahirkan ku boru Sitinjak. Istri dari adiknya Ayahku boru Harianja (kepada saudara laki-lakinya saya manggil Tulang), menantu abangnya Ayahku Marga Harianja dan Marga Gultom. Menantu adiknya Ayahku Marga Gultom (secara adat Batak saya panggil mereka lae). Ibuku punya saudara laki-laki yang menikah dengan Boru Samosir dan boru Gultom (secara adat Batak saya memanggil mereka nantulang bukan ito).

Saudara perempuan dari Ayahku menikah dengan Marga Gultom (secara adat Batak saya memanggil mereka”Amangboru” bukan abang). Nah, kalau dipesta bolon itu nantinya secara adat batak tentu kami semua duduk bersama dan saling abang beradik serta ito. Tentu, ini akan menyalahi dalam susunan kekerabatan yang diatur nenek moyang dalam “DALIHAN NATOLU”. Mengingat kekerabatan yang seperti ini masih terdapat dihampir semua keturunan Raja Sonang hingga saat ini, maka menurut saya belum saatnya dilaksanaka pesta sebagaimana dirancang ormas Persada. Karena apabila pesta tersebut dipaksakan, maka secara adat dipastikan gagal! Mengapa saya katakan gagal? Tidak mungkin bere memanggil adik pada tulangnya. Tak mungkin pula seorang bere manggil ito pada inang baonya. Semoga hal ini menjadi pertimbangan pada seluruh keturunan Raja Sonang.(Red/FS)

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.