PESTA BOLON RAJA SONANG BAKAL GAGAL SECARA ADAT?

Jakarta, mulajadinews.com

Keturunan Raja Sonang yang terdiri dari Marga Gultom, Marga Samosir, Marga Harianja, Marga Pakpahan dan Marga Sitinjak dikabarkan sedang merencanakan sebuah pesta maha dasyat di Pulau Samosir pada bulan Agustus mendatang. Pesta maha dasyat yang dimaksudkan tersebut dalam rangka peresmian Tugu Raja Sonang di Kecamatan Onan Runggu Kabupaten Samosir, Provinsi Sumut. Hal ini diketahui dari beberapa orang yang mengaku keturunan Raja Sonang dalam sebuah perbincangan di sebuah lapo. Mereka mengatakan bahwa kini telah ada panitia pelaksana pesta tersebut dan sedang gencar mengumpulkan dana lewat informasi WA.

“Katanya sih Poparan Oppung Kami Raja Sonang akan meresmikan Tugu Parsadaan Raja Sonang pada bulan Agustus mendatang”, sebut seseorang yang.mengaku marga Gultom kepada Mulajadinews di salah satu lapo dibilangan Cipayung, Jakarta Timur. Menurut nya, peresmian tugu tersebut diharapkan dapat dihadiri seluruh keturunan Raja Sonang. Namun ia sangat pesimis hal itu bisa terjadi karena belum semua keturunan Raja Sonang sepaham mengenai pesta peresmian tugu tersebut. Lebih jauh ia mengatakan bahwa belum saatnya pesta tersebut dilaksanakan mengingat ada paguyuban salah satu marga yang belum mendukung. Hal tersebut diamini rekan lainnya yang mengaku bermarga Sitinjak, Samosir dan ada juga ber marga Harianja. “Ada kemungkinan pesta itu gagal secara adat. Karena dalam adat Batak, jika ada pesta seperti itu harus ada dongan tubu, hula-hula dan juga boru. Nah, siapalah nanti dongan tubu Raja Sonang? Karena sampai saat ini belum ada kesepahaman dengan marga abang kami Pandiangan”, cetus yang mengaku marga Samosir kepada mulajadinews.com sembari berpesan agar tak menulis nama dan mempublikasikan foto mereka. “Lagian bang, mengenai jambar ulos, ini masih belum ada kesepahaman antara Marga Samosir dengan kami Marga Harianja. Apakah kami mendapatkan hak kami satu ulos atau akan berbagi dengan Marga induk kami?”, sambung yang mengaku bermarga Harianja.

Dalam perbincangan di lapo itu terdengar adanya rasa kecurigaan mengenai transparansi keuangan dan proporsional jabatan dalam organisasi. “Harusnya laporan keuangan itu transparan. Selama ini yang dilaporkan hanya tok-tok ripe dari seluruh pembayar. Mengenai sumbangan sukarela atau donatur tak pernah terpublikasi. Demikian juga mengenai pengeluaran setiap pertemuan seperti di Samosir, Batam dan Medan. Panitia tidak pernah publikasikan. Kita kan jadi curiga, sdh berapa dana yang terkumpul dan bagaimana penggunaan nya. Sebab dana disetorkan ke nomor rekening pribadi, bukan ke nomor rekening Raja Sonang. Dan berapa pengeluaran hingga saat ini tak pernah dipublikasikan. Kami bukannya tidak percaya, tapi yang namanya uang, semua manusia perlu dicurigai. Kita pengalaman dengan keuangan pembangunan tugu terdahulu, mana ada kejelasannya. Sampai saat ini masih tetap misteri. Berani ga membuka pembukuan pengeluaran dan pemasukan? Selain itu, susunan panitia membuat kita curiga. Koq yang namanya Ketua, Sekertaris dan Bendahara dari satu marga?”, beber yang mengaku Marga Gultom. Menurut pengakuan salah seorang pendiskusi lapo itu, mereka belum menerima kehadiran ormas Persada. Karena belum ada kesepahaman antar marga. “Kalau dari Marga kami jelas masih belum sepaham dengan Ormas Persada. Kami menilai ormas itu kurang pas jadi organisasi marga. Ormas itu lebih tepatnya jadi sayap partai”, tegas yang mengaku bermarga Samosir.

Dari rangkaian perbincangan tersebut mulajadinews.com berkesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pesta nantinya akan terjadi kekurang selarasan antar marga. Dan kekurang selarasan tersebut dapat saja menjadi pemicu perpecahan satu sama lainnya. Dalam kekerabatan Suku Batak, apabila melaksanakan sebuah pesta, selalu menghadirkan Tulang, Hula-hula, Dongan Tubu dan juga Boru. Dan biasanya pihak Tulang serta Hula-hula akan memberikan ulos kepada Hasuhuton (yang berpesta). Sebagaimana diketahui dari perbincangan di lapo tersebut, Marga dari keturunan Raja Sonang mardongan tubu dengan Marga Pandiangan. Dalam hal ini, mereka masih meragukan kehadiran marga tersebut. Demikian pula dengan parjambaran ulos. Jika Pihak Tulang (Marga Simbolon) dan hula-jula (Marga) Tindaon memberikan 4 ulos kepada bere, maka dapat diduga akan terjadi kesalahpahaman antara Marga Harianja dan Marga Samosir. Selain itu, mengenai transparansi keuangan juga dapat memicu polemik. Dimana menurut mereka, yang dipublikasi hanyalah penerimaan tok tok ripe (kewajiban-red). Sementara pemasukan dari para donatur serta pengeluaran tidak dipublikasi. Kecurigaan itu sah sah saja, terlebih menyangkut uang. Sebab, setiap manusia bisa saja gelap mata karena uang. Terlebih karena nomor rekening pengumpulan dana adalah atas nama pribadi. Semoga berawal dari perbincangan lapo ini pihak panitia dapat memperbaiki diri demi menjaga gesekan antar insan keturunan Raja Sonang, demikian pula para pengurus Ormas Persada, semoga dapat menyikapinya dengan baik. (Rpt).

Iklan
Iklan

Be the first to comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.